Menelusuri Jejak Sisa Kejayaan Kereta Api di Sumatera Utara
Di postingan sebelum-sebelumnya gw udah nampilin beberapa stasiun yang ada di jalur KA Sumatera Utara seperti Stasiun Besar Medan, Belawan, Binjai dan Lubuk Pakam. kali ini gw terusin lagi penelusuran menyusuri stasiun kereta api di Sumatera Utara.
Sejak jalur kereta api di Sumatera Utara dibangun pada tahun 1886 – 1931 oleh Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), setau gw sampe sekarang belum ada lagi penambahan jalur secara ekspansif untuk menambah jalur yang sudah ada tersebut, malah beberapa dari jalur tersebut sudah dimatikan. DSM sendiri membangun jalur kereta api ini dalam rangka kerjasama dengan perusahaan perkebunan sawit dan karet dengan tujuan ekspor yang menghubungkan antara sentral perkebunan tersebut di Rantau prapat, kisaran dan tanjung balai dengan pelabuhan belawan. Hingga kini pun, bentuk kerjasama tersebut juga masih ada, bedanya kini kereta api dikelola oleh PT KA Divisi Regional I Sumut & NAD.
Nah, kali ini mau gw tampilkan hasil jalan-jalan gw ke Stasiun KA Perbaungan, Kisaran, Aek Kanopan dan Tanjung Balai.
Sebelum sampai ke Stasiun Perbaungan, dari arah Medan terdapat sebuah sungai (Sei in medanese) bernama Sei Ular dengan lebar cukup lumayan yang memisahkan Kabupaten Serdang Bedagai dan Kabupaten Deli Serdang. Diatas sungai ini terdapat sebuah jembatan Kereta api dengan bentuk Arch Bridge yang asli keren banget… Kebetulan pas gw dateng ke jembatan ini ada Rangkaian KA pengangkut kricak ditarik sebuah BB 303 yang lewat..pas pisannn! hehehehe…


Tiba di Stasiun Perbaungan gw langsung foto-foto sana-sini.. saking hotnya ngambil foto, penduduk sekitar langsung ngeliatin gw dengan pandangan curiga sambil bisik-bisik … usut punya usut, ternyata karena mereka pikir gw dari kontraktor yang mau gusur mereka… spontan ngakak dah gw! hahaha… Stasiun Perbaungan ini masih meninggalkan sisa-sisa kejayaannya di masa lalu. Spoor yang jumlahnya kurang lebih ada 3 (walopun cuma tinggal 1 aja yang masih tampak kokoh) untuk ukuran stasiun kecil menunjukkan bahwa dulu stasiun ini sempat menjadi tempat yang lumayan ramai.. di sudut kompleks stasiun menuju arah ke Kisaran masih terdapat sisa-sisa bangunan yang udah ancur ditelan waktu dan lebih ke ujung lagi terdapat sisa sebuah tiang pancuran pengisian air untuk lokomotif uap. Sayangnya nggak ada kereta yang lewat di sore itu.



Perjalanan gw lanjutkan ke Stasiun Kisaran. Terletak dipersimpangan antara jalur ke Tanjung Balai dan jalur Ke Rantau Prapat. Merupakan Stasiun yang cukup besar dan Ramai, mungkin karena jaman dulunya juga jadi titik pertemuan dan persimpangan angkutan kereta pengangkut sawit dan karet dari Rantau Prapat dan dari Tanjung Balai menuju ke Pelabuhan Belawan. Berhubung gw sampe di Stasiun Kisaran ini udah agak sore plus hujan, jadi gak terlalu banyak foto yang gw ambil. fhufhufhufhu…


Setelah Kisaran, besoknya gw lanjut lagi ke Aek Kanopan sebuah kota kecil di jalan lintas arah Rantau Prapat. Perjalanan melalui jalan lintas sumatera yang kanan-kirinya terhampar luas perkebunan sawit. Jalan raya penuh dengan truk-truk pengangkut sawit, kayu gelondongan dan trailer penarik kontainer yang membuat jalan sangat panas, kering dan berdebu (ancur pula!, banyak lobang-lobang segede jalan)… Disitulah gw tahu kalau satu batang pohon sawit dewasa bisa menghabiskan 25 liter air sehari! No wonder panasnya minta ampun!.. Setelah perjalanan yang cukup panas itu, akhirnya gw sampe juga di Kota Aek Kanopan. Kota kecamatan ini juga memiliki sebuah stasiun kecil yangbernama Stasiun KA Membang Muda. Stasiun ini berada agak menjorok kedalam sehingga tidak terlihat langsung dari jalan raya lintas. Keadaan pas gw kesitu cukup lengang, tak ada aktivitas kereta api yang lewat, para petugas PT KAI pun sedang berkumpul di ruang kontrol yang masih lengkap dengan tuas-tuas wesel manualnya.






Perjalanan gw lanjutkan lagi, tapi nggak ke Rantau Prapat melainkan ke Stasiun Tanjung Balai, berbalik arah lagi menuju kisaran dan ambil belokan ke kanan di Simpang Kawat. Menuju Stasiun tanjung balai ini gw ngelewatin kota Tanjung Balai yang masih banyak banget bangunan antiknya, mencerminkan suasana kota lama yang cukup menggoda buat dijadikan sasaran tembak buat yang doyan hunting cari spot buat foto. Sebelum mencapai stasiun Tanjung Balai, harus menyeberang jembatan yang melintas Sungai Asahan. Stasiun Tanjung Balai merupakan salah satu ujung rel dari jalur kereta api yang ada di Sumatera Utara. Ketika gw sampai disana, keadaan sangat sepi, gerbang stasiun pun masih tutup sehingga gw harus ambil jalan lewat salah satu los perusahaan ekspedisi yang ada disamping Stasiun untuk bisa masuk ke dalam areal emplasemen. Begitu masuk kedalam, terlihat beberapa spoor yang keliatan banget tua-nya, beberapa bahkan kayaknya udah ga bisa lagi dilewatin. Sisa-sisa masa lalu masih jelas keliatan disini, dari bentuk bangunan stasiun yang arsitekturnya masih bentuk bangunan jaman belanda lengkap dengan jendela-jendela besarnya, bantalan kayu yang mulai melapuk, rel ber emboss DSM yang berangka tahun 1913, juga baut-baut penahan rel yang juga menunjukkan perjalanan waktu perusahaan kereta api milik negara ini, Baut-baut ini masih jelas terlihat emboss DKA, PNKA dan PJKA, asli kuno banget cuy! Tapi yang paling menarik adalah ketika melihat sudut dari salah satu ujung jalur KA Sumut ini, keliatan banget kalo nggak pernah diurusin, apalagi ditambah jalurnya karena udah tertutup semak belukar.. disana-sini masih keliatan tuas wesel manual yang udah teronggok begitu saja termakan waktu. Di samping ujung jalur tersebut juga masih berdiri sebuah bangunan yang kata kepala stasiun-nya merupakan bekas water tower untuk lokomotif-lokomotif uap di jaman dulu.










hai aku juga anak karyawan PJKA. hidupku dirumah tua peninggalan belanda di kota binjai.tempatku banyak foto begituan salam kenal
wets… salam kenal bang hatta. wah,banyak foto lama? uhuiyy ada harta karunn!!! boleh dong di-share itu foto-foto lamanya? supaya gak ilang ditelan jaman… kontak saya di gregory_hw@yahoo.com yah. ditunggu bos.. thank u.
hai salam kenal .
gw rusnan orang paling suka dari yg suka dengan kereta tua . sampai besar hati ini mo ngidupin salah satu kereta tua . minta info dong ,mungkin kalian ada yg tau atau info tentang kereta tua yg teronggok di kampung / daerah yg belum terjamah ma publik . klu udah di musium mah repot ijinya .
rusnanerces@yahoo.com
hai,salam kenal……..!
gw jeny,menurut aq,PJKA skarang sangatlah kurang terjamin Fasilitasnya ,krna kurang nya JAngkauan sarana,keuangan,,
@ Rusnan: Salam kenal juga Rusnan.. waduh, kalo kereta tua yang teronggok sih gak tau ya ada dimana bos… biasanya loko uap itu kalo gak di museum ya sudah dijadikan monumen. itupun belum tentu bagian jeroan mesinnya masih ada apalagi utuh dan lengkap… maaf belum bisa bantu. Happy hunting. ^^
@ Jenny: Salam kenal Jenny, kalo begitu, mari kita sama-sama dukung PT KA supaya dapat meningkatkan layanan dan fasilitasnya. Bisa dimulai dengan cara yang paling mudah, yakni selalu membeli tiket ketika akan menggunakan kereta api dan menjaga fasilitas yang ada supaya tetap terawat. Salam.
mantab…lengkap bgt infonya tentang KA d Medan…..thank’s
thanx kang pamin… makasi udah mampir… sering-sering ya… heheheh… ^^
gw terkenang masa-masa kecil gw di r.prapat.thank’s ya bos foto-fotonya
Sama-sama Bang Hendrik… senang bahwa tulisan saya bisa “terpakai”… hehehe…
Wah,,,,, pak Masinis,,, banyak yang g’ bayar karcis,,, aku dah sering tak bolik karcis,,,,, maap yo!!!!
salam kenal rekan2 smua.aQu suport upaya penghidupan kembali ka d sumatra . liat foto ka d sana jadi merana . di jawa juga sama, bayak jalur ka yang kandas. moga bener jadi realisai. . ayoo dukung fren