Telusur Rel Mati Di Jalur KA Sumatera Utara: Bagian 1
Hallo readers, ketemu lagi kita… hehehe… moga belum bosan… kali ini gw mau nulis tentang sekejap perjalanan gw menyusuri 2 buah jalur mati kereta api bekas Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) yang ada di daerah Medan dan sekitarnya di hari Sabtu 30 Mei 2009 … Gini ceritanya…
Hari Jumat gw kontak temen gw Enrico Naibaho si crosser buat ngajakin doi jalan nyari-nyari bangunan stasiun dan rel kereta api yang dah gak dipake lagi alias mangkrak-nyaris ditelen bumi… gw ajak dia soalnya medan yang bakal ditempuh pasti gak kan bisa dilaluin kalo pake motor gw si mimin, kudu pake motor yang bisa diajak ajrut-ajrutan di jalan tanah. kwkwkw… sori min, lu gak gw ajakin kali ini, daripada lu jebol! hehehe… So di hari Sabtu pagi kami mulai perjalanan kami, cuaca cukup mendung berawan, untung gak pake hujan… pertama-tama kami hunting foto dulu disekitar rumah Enrico di daerah Simpang Pos yang kebetulan dekat sama bekas jalur KA Medan-Pancurbatu… disitu kami menemukan satu spoor tua melintang di jalan Luku yang salah satu ujungnya udah gak keliatan lagi karena sudah menembus bagian dasar sebuah rumah.
Dari situ kami lanjutkan perjalanan ke arah Titi Kuning. Sebelum mencapai daerah asrama haji kami melintasi jembatan sungai Babura dimana tak jauh disebelahnya terdapat sebuah jembatan KA tua yang dah full karat! Jembatan ini memiliki bentuk busur (arch) kecil dimana ujung-ujungnya ditahan oleh rancang bangun jaman kolonial! keliatan banget tuanya bos. hehehe… tapi walopun begitu ternyata jembatan ini masih digunakan oleh masyarakat sekitar untuk menyeberang. Uniknya jembatan ini cuma terdiri atas ada 2 batang rel yang ditempelkan! kecil banget bos! kalo meleng ato kepleset kemungkinan untuk njeblos trus nyebur ke sungai sangat terbuka lebar… hahaha… kudu hati-hati lah… tapi gw perhatiin kalo orang situ keknya udah biasa banget nyeberang dengan santainya tanpa rasa takut… ck ck.. banyak orang sakti dimari… wakakak…




Pada dua batang rel yang digunakan untuk menyeberang tersebut masih ada emboss bertuliskan “KRUPP 1885 VIII DSM A”… whuh! buset dah, makin nyata kalo ini merupakan rel yang dipake buat bangun jalur KA pertama Sumatera Utara! keren pisan.


Dari Jembatan tersebut, perjalanan kami lanjutkan pertama-tama menuju daerah Bandar durian di Kelurahan Titi Kuning untuk mencari bekas stasiun yang katanya ada disitu. Jalur yang ada di peta merupakan jalur yang mengarah ke stasiun yang bernama Stasiun Batu di daerah Deli Tua. Dalam perjalanan, setelah cukup lama ngubek-ngubek n nanya-nanya, kami masuk ke sebuah jalan bernama jalan Stasiun (so obvious eh? hahaha).. setelah melalui perjalanan cukup panjang akhirnya ada juga rel yang kelihatan melintang pas dijalan stasiun tersebut. Kami langsung berhenti dan bertanya pada seorang pemilik warung yang ada disitu… doi gak ngerti.. tanya lagi orang yang lain… eh gak ngerti juga… yah, daripada kecele kami berniat untuk mulai menyusurin jalur rel ini ajalah, mungkin stasiun itu masih jauh… tetapi begitu kami balik badan n jalan gak sampe lima meter, gez what, tu bekas stasiun tepat depan kami! wakakakakakak… ancurr! hahaha… Langsung dah difoto dari segala penjuru… stasiun yang bernama Stasiun Kedai Durian ini kelihatan udah lama banget gak digunakan sebagaimana mestinya, bahkan ni stasiun udah dipake jadi rumah. Ketika gw ambil foto, orang yang tinggal dirumah itu keluar n terlihat bingung (bahkan doi pikir kami dari tim bedah rumah, itu tu acara di salah satu tipi swasta kita, hahaha ada-ada aja)… tetapi setelah dijelaskan dia ngerti en mempersilakan kami ngambil gambar stasiun tersebut.




Gak terlalu banyak sisa identitas stasiun ini yang masih tersisa, yang ada hanya tulisan kedai durian yang udah mulai pudar diatas stasiun. bentuk sih nampaknya gak terlalu banyak berubah, hanya ada penambahan bilik bambu sebagai “tembok” untuk menutup bagian tengah stasiun yang ngeblong sehingga tempat ini bisa ditinggali. Disekitar stasiun terdapat satu spoor yang bercabang dua lurus mengarah menuju arah ke deli tua. Gak pengen buang waktu, kami berdua pun naik lagi ke atas trail dan mulai menyusuri spoor yang nyaris semuanya tertutup tanah. Melintasi jalan kampung menggunakan trail cukup membuat sensasi buat orang-orang sekitar, diliatin sepanjang jalan kayak tontonan hahaha… lanjuttt…
Sepanjang jalan tersebut kami melihat spoor yang tertanam di tanah, ada juga yang masih menyisakan bantalan kayu. akan tetapi, mendekati Kota Deli Tua jalur tersebut mulai menghilang. Mungkin dicabut atau mungkin sudah tertanam lebih dalam lagi. Setelah tanya-tanya sana-sini (lagi) akhirnya kami menemukan Stasiun Deli Tua. Stasiun ini ternyata udah dipake sebagai tempat tinggal juga, bahkan disekitarnya udah jadi pasar tradisional! praktis kami tak menemukan sisa-sisa properti KA selain bangunan stasiun itu sendiri. Spoor-nya udah nggak ada, tanda-tanda lain juga nggak ada. Hal ini menunjukkan bahwa jalur ini udah ditutup cukup lama. Tapi disini kami dapat info yang mantep, seorang pemilik warung tempat kami sarapan mengatakan bahwa setelah stasiun ini masih ada jalur yang menuju ke Stasiun Batu! yap! stasiun yang tercantum dalam peta yang gw pegang! heheheh… doi bilang Stasiun batu tersebut mendapatkan namanya karena katanya dulu merupakan stasiun tempat batu-batu dari sungai deli diangkat dan dipecah untuk dijadikan kricak alias ballast bantalan rel.


Perjalanan pun kami lanjutkan menuju ke Stasiun Batu yang terletak di Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang. Sepanjang jalan kadang-kadang masih suka terlihat rel yang menyembul diatas tanah bahkan masuk kedalam rumah. kwkwkwk… Begitu kami sampai di tempat yang pemilik warung itu bilang, kami clingak-clinguk bingung… nggak ada tanda-tanda bekas stasiun ni.. heummmm.. setelah bolak-balik, akhirnya kami menyimpulkan bahwa sebuah bangunan besar di depan SPBU adalah bekas stasiun Batu. Bangunan ini udah dijadikan beberapa rumah petak bahkan jadi salon juga. kwkwkw… Satu-satunya tanda yang bikin kami akhirnya menyimpulkan bahwa ini adalah stasiun Batu adalah adanya sisa-sisa bentuk bangunan lama yang memiliki ciri fondasi menonjol keluar dari dasar dan semakin mengecil keatas. moga aja bener… fhuhhh… ternyata emang gak gampang nyari bangunan lama, apalagi karena dah banyak perubahannya… tapi gw puas! satu jalur mati selesai ditelusur sudah.


Setelah istirahat sebentar, kami lanjutkan perjalanan menembus kota Deli tua yang masih bernuansakan kota tua dengan bangunan-bangunan hasil kebudayaan kejayaan masa lalu yang menyiratkan kesan antik dan ramah, udah gitu alamnya pun masih sangat menyenangkan untuk dilalui..

Melewati Kota Deli Tua, kami melanjutkan perjalanan ke arah Simpang Pos melalui Titi Kuning dan Asrama Haji (yeup, kebalikan dari jalan berangkat yang tadi). Rencananya kami mau menuju ke arah Pancur Batu (jaman dulu namanya Arnhemia, di peta jalur KA jaman belanda punya namanya masih Arnhemia sebelum kemudian diganti). FYI, gw belon nemu jalur rel ke arah pancur batu selain di jembatan tua Sungai Babura dan sepotong rel di jalan Luku. So, kami menembus jalan raya aja menuju ke Kota Kecamatan Pancur Batu yang terletak sekitar 18 km dari Medan melalui jalan Jamin Ginting ke arah Berastagi. Waktu menunjukkan jam 12 kurang 5. pwanashhhhhh banget broooow! hehehe…
Sampai di Pancur Batu, gak semudah yang dibayangkan. Berbekal selembar peta jalur kereta api sumut ternyata juga nggak cukup. Udah diubek-ubek tetap gak keliatan lagi tu stasiun ada dimana… Kami bolak-balik keluar masuk jalan tikus, masuk ke pasar, masuk disini keluar disana, tengok sana-tengok sini, masih gak ketemu juga… hampir menyerah, kami mencoba sekali lagi , ternyata eh ternyata ketika kami berjalan pelan-pelan menyusuri jalan jamin ginting yang menuju ke arah medan, gak sengaja disebelah kanan gw ngeliat sekelebat dua batang rel yang menyembul di permukaan tanah, dengan posisi agak menjorok ke dalam gang… Langsung muter lagi dah! hehehe… gw langsung turun terus masuk ke gang tersebut! dan benar sekali! terdapat dua spoor yang masih sangat jelas menyembul diatas tanah menembus kedalam rumah. gw jalan lagi lebih dalam, akhirnya ketemu juga… rel yang menggantung masih dengan bantalan kayunya berada diantara semak-semak dan pepohonan. Disitu ketemu dengan warga yang dengan tatapan curiga nanya ma gw mau ngapain, as usual setelah dijelaskan akhirnya mengerti dan doi malah nunjukkin sama gw dimana letak stasiunnya.




Di sekitar Stasiun Pancur Batu kini pada bagian kanan-kiri, depan-belakangnya sudah ditutupi oleh warung-warung dan rumah-rumah penduduk, no wonder gak ketemu, ketutupan gitu! tapi di bekas bangunan stasiun tersebut masih ada tulisan ber ejaan lama bertuliskan PANTJUR BATU menumpuk diatas tulisan …….BATOE. girang bukan kepalang lah gw… semakin yakin karena akhirnya beneran ketemu juga ni stasiun! Disitu gw juga menemukan sebuah bekas menara air yang masih kokoh lengkap dengan tangki air dari besi yang udah berkarat yang dulunya digunakan untuk mengisi air lokomotif uap, tepat berada di depan sebuah rumah. Dari informasi yang gw dapetin dari warga yang punya rumah di depan stasiun, doi bilang kalo ni stasiun udah gak pernah lagi dipake sejak tahun 60-an. whuh! mangkenye saat ini tu rumah-rumah dah sampe nutupin ni stasiun, saking lamanya! heheheh… Sayangnya, selain atap yang bisa gw ambil fotonya, gw gak bisa ambil gambar yang lain… hehehe…tapi nggak papa, gw dah tambah puas… hari ini tambah lagi satu jalur yang selesai ditelusur…
Selesai dari Pancur Batu, perjalanan gw lanjutkan lagi ke Medan. Ada satu lagi bekas stasiun yang gw belum nemuin dijalur ini, yaitu stasiun yang bernama Stasiun Kampung Baru. Konon katanya di Stasiun Kampung Baru inilah terletak persimpangan spoor. satu menuju ke arah Deli Tua dan satu lagi menuju ke arah Pancur Batu.
Kami mengarah ke arah Kampung Baru di Jl. Brigjen Katamso Medan. Ketika kami menemukan rel melintang di jalan dekat Simpang Al falah. Satu rel mengarah ke Stasiun Besar Medan dan satu lagi ke arah Titi Kuning. Setelah tanya-tanya pada warga sekitar kami pun langsung menyusuri rel yang mengarah ke Stasiun Besar Medan, karena katanya stasiunnya ada dijalur tersebut, tepat berada di tengah-tengah perkampungan. Di jalur tersebut kami masih menemukan dua buah tiang sinyal masuk mekanik yang masih berdiri lengkap dengan lengan intruksi yang sudah karatan. Semakin dekat ni pikir gw… hehehe…
Menyusuri gang yang padat penduduk dengan menggunakan motor trail dan kamera ditangan bukan perkara gampang, karena sepanjang penelusuran kami tersebut, banyak warga yang kelihatan bingung, curiga dan bahkan ada yang menyangka kami ni orang yang mau gusur mereka, orang dari PT KA, orang dari stasiun TV, wartawan, yah macem-macem lah… cukup capek juga harus menjelaskan pada begitu banyak orang, bahkan stasiunnya pun belum ketemu. wakakaka… tapi gakpapa, sekalian sosialiasi bahwa ada juga orang-orang “gila” yang doyan banget sama kereta api! kwkkw…


Setelah berjalan cukup lama plus tanya-tanya akhirnya kami menemukan juga bangunan Stasiun Kampung Baru tersebut. Stasiun ini hampir sama nasibnya dengan stasiun-stasiun lain yang kami temui hari ini, udah dijadikan rumah tinggal permanen. Bagian peron stasiun yang udah ditembok pake bata dan semen, udah dibangun warung, dan ketutupan sana-sini bos! Di stasiun ini lagi-lagi kami dicurigai… waakakakak… cape dehhhh… tapi yah demi niatan baik, kami tetap menjelaskan pada mereka, entah mereka percaya atau tidak… Tapi pikir-pikir wajar juga sih, RAILFAN pasti dianggap orang yang aneh! gak umum dan sulit diterima oleh orang kebanyakan! hahaha… biarin aja, MERDEKA! wakakaka…


Di sekitar stasiun ini masih ada sebuah gudang besar berwarna merah yang konon katanya dulu merupakan salah satu gudang di kompleks stasiun ini. Namun nasibnya juga sama, sama-sama udah jadi tempat hunian warga. hehehe… setelah foto-foto sejenak, kami akhirnya pulang. Satu hal yang bisa gw syukuri hari ini… bisa menemukan, menikmati dan mengagumi fragmen sisa sejarah kejayaan kereta api di Sumatera Utara… what an experience!… hanya saja langsung terlintas dalam pikiran.. untuk berapa lama itu semua bertahan…
Tunggu kami di penelusuran rel mati selanjutnya :
Jalur KA Mati dari Stasiun Lubuk Pakam – Pagar Marbau – Tanah Abang – Galang - Petoemboekan - Sialang – Bangoenpoerba di Sumatera Utara.



Classic
yah classic banget artikel, foto, n beunget na.
Hahahahaha
Overall u r great
Nice hobby, nice shoot, not bad face. Again :p
Hehehehehe
seru juga crita lo……
gw suka banget ama kereta api,
kpan pemerintah bisa mengaktifkan kembali jalur2 yg udah mati
thanx bro.. wah, untuk menghidupkan jalur mati tuh udah gak gampang. selain butuh biaya besar, kebanyakan sarana-prasarana udah ketutupan sama pemukiman penduduk, yang pastinya bakal cukup sulit buat dibebaskan kembali. Gw sih seneng aja treking di jalur mati, karena sense of history nya masih dapet banget.
Wah lengkap banget dokumentasinya …
Sebagai railfan saya sampaikan salut atas tulisan ini.
Semoga menjadi manfaat bagi railfan lainnya
makasih bos buat dukungannya… nice to know bahwa tulisan ini bisa bermanfaat. meanwhile, tunggu kami dipenelusuran selanjutnya ya. thanx once again.
saya penggemar KA juga… wah keren y bisa menyelusuri rel mati.
Wah..! Two Tumbs Up..! Bravo
Kirim aja artikel ini ke media di Sumut atau media Nasional..!
Siapa tau ada Pembesar kuat yg dapat mewujudkan kembali “The Death RAilways in North Sumatra”..
Pokoknya bagus bangets dah..!
thanx bro.. wah, kalo dimasukkan ke media seperti itu saya belum kepikiran je… kwkwkw… tapi thanx ya buat ide dan supportnya.. ^^…
lebih di banyakin lagi donk gambar jalan kereta yang sudah tua diar bisa memperdalam lagi tolong ya di usahain
Kebanyakan jalur KA yang ada di Indonesia merupakan peninggalan jaman kolonial. Panjang jalur KA saat inipun sudah banyak berkurang karena banyak jalur KA yang mati atau dimatikan. Untuk sumatera utara sendiri terdapat cukup banyak jalur KA mati tersebut. Pada tulisan saya yang berikutnya nanti, akan saya coba tampilkan kembali hasil trekking saya yang lain dalam menelusuri jalur KA mati lainnya di sumatera utara. terimakasih atas atensi dan dukungannya.
gileeeeeeeeeeeeeeeeeeee bro keren abiz……..
bangga bgt gua py temen yang hobinya kaya gini…ga kepikiran gw….mantab kaleeeeee….lanjutkan bro
kwkwkwkw… thanx bro.. ^^..
wah keren abisss….. gw jg railfans suka bgt kl nyusuri rel kreta api yng udh mati, sense of history na msh kental, gw suka nyusuri rel mati jalur yogya, magelang n temanggung, gw pny mimpi biar rel2 yg udh mati itu diidupin lg, bwt moda transpotasi n wisata.
Ini rel dari Aceh itu ya? yang memiliki gauge 750 mm. Wah, bekas-bekasnya masih terlihat ya. Di KIT map juga jelas sekali jalurnya.
Salam,
Agra W Hermantoro
KSPI
Mas Agra, ini merupakan jalur mati yang ada di Sumut dan ukuran gauge-nya 1067mm, dari arah Medan ke Pancur Batu dan Deli Tua, seiring waktu berjalan, dan karena bantalan yang hancur, maka sisa rel terdorong ke arah dalam sehingga kelihatan mepet dan terlihat seperti memiliki lebar gauge 750mm. Jalur KA Aceh yang gauge-nya 750mm dari Pelabuhan Ulee Lhue habis sampai di Besitang dan tidak sampai ke Medan. Terimakasih untuk atensinya.
wah cakep2 mas,,, demi hobi kt berkreasi
semangat !
Keren bangetzzzzzzzz, salut buat yang uda mblusukan mencari jalur ini, Banyak jempol dah buat dokumentasinya
Artikelnya keren ne bang
Kebetulan aku siswa di SMK YAPIM biru-biru yg dekat dr Stasiun Batu tu td.
Menurutku ya ngeaktifin kmbali jalur kreta ne td bakalan bikin ribut ja, jd mnurutku ya ga usah diaktifin ge kasian juga ama warga2 yg tinggal d situ.
oiya bang gambar2nya bagus tp maunya kurang banyak. sukses ya buat abang2 masih peduli sm hal2 yg kyk gini.
Akhirnya dapat juga mengenai perkereta apian di medan
Saya dah liat di KITLV, tp bekasnya sekarang da gak nampak lagi.
Koleksi foto tentang kereta api saya dari KITLV da banyak.
Untuk refreshing kalo lagi suntukx.
Kapan keluar Penelusuran Rel Mati bagian 2 nya………….????????
Saya juga pernah menelusuri rel mati, tapi bingung, gak da petanya.
Boleh dong ajak saya, menelusuri Rel Mati yang lain.
Salam kenal bang.
Saya kasih aja ya nomor saya. Sapa tau kita bisa sama-sama
(081263697783)
Kalo boleh tahu abang dari mana…..??????
Tinggal abang di mana ?????
Mungkin saya bisa main ke sana ………..!!!! Kalo Bole
Terima Kasih
@ Pato, Junis & Edi : thanx buat complimentnya ya… hehehe… mengenai jalur mati yang dihidupkan kembali, yah agak sulit sih mengingat kondisi saat ini jalurnya udah padat sama pemukiman penduduk… kalopun mau dibuka kembali akan butuh waktu yang lama dan biaya yang besar… tapi saya sempat dengar katanya akan diaktifkan kembali jalur KA dari stasiun medan ke Deli Tua… realisasinya bagaimana, kita tunggu aja… hehehehe…
@ Azwar: wah, boleh juga tuh… posisi dimana Azwar? di Medan? kalo di Medan, ikut gabung aja sama RF DIVRE 1… kami suka kumpul di stasiun pulubrayan hari sabtu sore… sekalian nambah teman buat bagi cerita dan pengalaman…. thanx ya… ^^ ditunggu!
@admin
@RF DIVRE 1: Terima kasih atas izinnya untuk gabung.
ayo mas azwar ,, gabung dengan kita2 ..
supaya semakin ramai Railfans Dari Divre 1
salam kenal
Great !!!
just keep up with the good job.
terimakasih mas Siswanto..