Pesona Banda Aceh dan Pulau Weh
Touchdown di Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh diiringi decak kagum… keren bandaranya, baru, besar, bersih, megah dan wah!… beda banget dengan bandara keberangkatan gw di Polonia Medan.. hahaha… (tapi ini just for a while bro, ntar kalo bandara baru Medan di Kualanamu selesai, pasti juga gak kalah kerennya… ^^..). Dari Bandara, ternyata perut sempet juga protes… so tanpa banyak cerita, kami lanjutkan dulu perjalanan ke sebuah rumah makan di jalan lintas antara Bandara dan kota Banda Aceh. Nama rumah makannya “Rm. Cut Dek”… maksud hati bukan mau promosi, tapi di rumah makan inilah buat pertama kalinya gw makan masakan ayam dengan nama “Ayam Tangkap!”…. hehehe… jadi masakan ayam ini sebenernya adalah ayam kampung yang dipotong kecil-kecil dan dimasak campur dengan dedaunan (gw lupa nama daunnya apa) dan cabe ijo utuh yang digoreng sampe garing… Gurihnya ayam dan uniknya rasa daun yang digoreng sampe ‘kemripik’ bikin gw pengen nambah terus! sensasi rasanya seru… hehehe… kenapa disebut ayam tangkap ya? nama ayam tangkap sendiri mungkin dikarenakan saking banyaknya daun yang nutupin ayam jadi kalo mau makan potongan ayam tersebut harus “ditangkap” (dicari, diaduk-aduk, diubek-ubek sampe “ketangkep”) kwkwkwk.. tapi ga tau juga sih, ini cuma pendapat ngasal gw aja…. tapi overall kata gw sih, enak! heheheh…


Setelah perut kenyang, perjalanan kami lanjutkan ke kota Banda Aceh. Ada beberapa hal yang bikin gw lagi-lagi berdecak kagum… kotanya bersih banget bos! sungainya bening n minus sampah… udah gitu masyarakatnya juga tertib lalu lintas… gada tu gw liat yang slonong boy ngelanggar lampu merah seenak jidat! mantapp!
Kalo inget Aceh, yang terlintas pastilah bayangan memori gempa bumi 9.3 SR dan tsunami yang pernah dengan dahsyatnya meluluh lantakkan bumi serambi mekkah ini pada 26 Desember 2004… setelah lima tahun berselang, pembangunan, perbaikan dan rehabilitasi infrastruktur mulai kelihatan hasilnya… banyak bangunan baru disana dan disini… kehidupan pun mulai menggeliat ke arah kemajuan. Selain itu, kondisi keamanan dan ketertiban di Banda Aceh pun sangat baik, tidak terasa bedanya dengan kota-kota lain… sudah tidak lagi seperti yang digambarkan ataupun diceritakan orang tentang masa lalu di Aceh… aman-aman aja kok… padahal ini pertama kali gw ke Aceh… kesan pertama yang begitu menggoda… kwkwkwk…
Sampai di Kota Banda, langsung dah gak bisa diem di hotel, bawaannya pengen langsung jalan aja… hehehe… destinasi pertama di sore hari itu adalah kapal tongkang PLTD Apung milik PLN yang saat tsunami terseret arus gelombang dari Pelabuhan Ulee lheue ke tengah kota hampir sejauh+/- 3 kilometer…. padahal itu kapal bobot matinya sekitar 2500 ton! (ada yang bilang 3600 ton ada yang bilang 4500 ton…. hweeheheh… ga tau deh… yang pasti gede n berat banget!) Kebayang dahsyatnya itu tsunami… huff… Saat ini PLTD Apung dijadikan sebagai monumen peringatan tragedi tsunami yang menelan korban ratusan ribu jiwa itu…


Setelah muter-muter kesana-kemari naik becak mesin yang ternyata sang driver gak tau lokasi tu kapal (wahahahah…. ancur dah…) alhasil nanya sana-sini deh doi…. Akhirnya kami sampai juga ke Gampong Punge Blang Cut, lokasi PLTD tersebut…. Ketika kami sampe ke lokasi PLTD, ternyata sedang cukup ramai dikunjungi… banyak orang yang datang untuk melihat-lihat dan mengabadikan momentum kehadiran mereka dengan berfoto… kami juga gak melewatkan kesempatan untuk naik ke atas kapal… asli gede ni kapal! udah gitu nyangkut pula ditengah pemukiman dengan cara melindas dan meluluhlantakkan rumah-rumah penduduk yang berada di garis lintasan terseretnya kapal ini.. Bahkan katanya, dibawah kapal ini masih terdapat beberapa korban bencana tsunami yang nggak bisa dievakuasi, karena gimana coba ngangkatnya? harus pake crane super gede buat ngangkat!…
Tujuan selanjutnya adalah lapangan Blang Padang… di lapangan ini terdapat sebuah monumen replika pesawat Dakota DC-3 RI-001 “Seulawah” yang merupakan pesawat pertama maskapai nasional Indonesia yakni Garuda Indonesia. Kenapa pesawat ini ada disini? pesawat ini dijadikan monumen di Banda Aceh dikarenakan peran besar masyarakat Aceh dalam pembelian pesawat tersebut. Masyarakat Aceh menyumbang emas sebanyak 20 kg yang kemudian dijadikan modal pembelian pesawat… Pesawat ini kemudian dijadikan pesawat angkut komersial pertama milik Indonesia… that’s why pesawat “Seulawah” ini memiliki arti yang besar bagi masyarakat Aceh dan Bangsa Indonesia pada umumnya. “Seulawah” sendiri diambil dari Bahasa Aceh yang memiliki arti “Gunung Emas”… Selain di Lapangan Blang Padang, replika pesawat Dakota DC-3 RI-001 “Seulawah” ini juga terdapat di anjungan Provinsi Aceh di Taman Mini Indonesia Indah dan di Museum Satria Mandala, Jakarta.


Di lapangan Blang Padang terdapat juga lintasan untuk jogging… uniknya, di samping lintasan terdapat prasasti-prasasti kecil tanda terimakasih Aceh kepada berbagai negara atas perhatian dan bantuan pasca tsunami. Prasasti ini berbentuk pucuk perahu, uniknya ucapan terimakasih dituliskan dalam bahasa masing-masing negara tersebut. Selain itu juga terdapat Tugu Peringatan Tsunami. Tugu ini dibangun oleh Yayasan Harapan Bangsa Nusantara dan didanai oleh yayasan dari Amerika. Tugu ini diresmikan pembuatannya oleh Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen TNI Supiadin AS di tahun 2008.
Setelah puas di Lapangan Blang Padang, kami menyeberang jalan menuju ke Aceh Tsunami Museum… Museum ini juga merupakan ikon peringatan tsunami Aceh dengan desain bangunan yang unik menyerupai rumah adat aceh yakni Rumoh Aceh. Desain bangunan bernama “Rumoh Aceh as Escape Hill” karya M. Insan Kamil seorang dosen arsitektur Institut Teknologi Bandung ini, selain dijadikan sebagai museum dan monumen juga dijadikan sebagai tempat evakuasi apabila dikemudian hari tsunami kembali menerjang Aceh. Sayangnya ketika kami sampe ke tempat ini, tempat ini tutup (karena emang udah sore sih… atau emang belum dibuka? heuheuhue…) jadi kami gak bisa masuk dan melihat-lihat ke bagian dalamnya… kami langsung cabut dah… jalan-jalan naik becak mesin mengitari kota di sore hari… menyempatkan diri juga melihat Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang berdiri dengan gagah… Setelah langit mulai gelap, kamipun kembali ke hotel sambil tak sabar menunggu hari esok…


Seperti yang sudah direncanakan dihari sebelumnya, pada kali ini kami melanjutkan perjalanan menuju ke Sabang di Pulau Weh… pulau terluar di bagian barat Indonesia… Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Ulee Lheue di Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan penyeberangan kapal dari Aceh ke Pulau Weh dan sebaliknya… Pelabuhan ini melayani penyeberangan menggunakan kapal ferry penyeberangan dan kapal cepat… Kalo pake kapal ferry penyeberangan (disebutnya kapal lambat) lama perjalanan dari Pelabuhan Ulee Lheue ke Pelabuhan Balohan di Pulau Weh adalah sekitar 2 jam, sedangkan apabila menggunakan kapal cepat hanya 35-40 menit. Berhubung kami pengen segera sampai kami memilih untuk menggunakan kapal cepat.




Sampai di Pelabuhan Balohan, karena sudah semakin sore maka kami pun buru-buru melanjutkan perjalanan… langsung menuju Tugu Kilometer Nol. Sepanjang perjalanan dari Balohan ke lokasi tersebut kami dihibur oleh pemandangan pantai, gunung, dan hutan yang asri banget, udara yang sejuk dan jalan yang mulus! mantap jaya top markotop pokoknya lah….. Setelah berjalan selama kurang lebih satu jam akhirnya kami tiba juga dilokasi… langit berwarna kemerahan karena sebentar lagi matahari tenggelam… Di lokasi Tugu Kilometer Nol, keadaan cukup lengang… hanya ada dua mobil termasuk mobil yang membawa kami… disekitar tugu terdapat banyak sekali plakat-plakat yang disemenkan kedalam batu-batu besar. Plakat-plakat tersebut bertuliskan “saya was here”, “Fulan pernah disini”, “grup bla-bla sudah sampai ke sini”… niat bener ya bikin tu plakat, udah gitu yang lebih niat lagi tu adalah menyemenkannya di batu. Herannya, banyak banget aja loh itu plakat… hehehehe… kami kemudian menaiki tangga masuk ke dalam tugu. di tengah tugu terdapat prasasti yang menyatakan bahwa kami sedang menjejak di atas titik paling barat wilayah negara Indonesia… gak lupa kami ambil gambar buat kenang-kenangan dan titip pesan sama teman kami untuk pembuatan Sertifikat Kilometer Nol yang memang diterbitkan oleh Pemda setempat sebagai kenang-kenangan sudah pernah sampai di titik kilometer nol. Setelah mengambil gambar di Tugu Kilometer Nol, pandangan kami arahkan ke arah Samudera Hindia…. pemandangan sunset yang eksotis membuat kami sejenak mlongo… hehehe… mantap!


Langit pun mulai gelap… perjalanan kami lanjutkan ke arah Kota Sabang…. kebetulan disana lagi ada pameran kerajinan hasil karya masyarakat setempat, jadi kami punya tujuan lagi deh malam ini… di perjalanan, kami juga menyempatkan diri melalui Pantai Iboih, pantai yang terkenal sebagai spot untuk diving dan snorkeling karena terumbu karangnya yang cantik … Namun berhubung udah malam, gelap gulita dah… ga keliatan apa-apa… hahahahah…. apes gw… lanjutt!
Sampai di tempat pameran… lah lah lah….. ternyata ruameeee poll! semua orang di pulau ini datang kemari!… gile…. padahal acaranya cuma gitu doang… Pamerannya sendiri gak banyak, cuma ada beberapa stand aja… tapi yang jualan di luar…. wuw…. bener-bener kayak pasar malem… yang jualan sama yang datang sama banyaknya… hehuehueuh… so, setelah liat sana sini sebentar kami pun memutuskan untuk masuk hotel aja… cape boy! hehehehe… kami datang ke Sabang dan menginap di hotel yang namanya Sabang Guest House… nyama-nyamain… kwkwk… itu pun penuh! cuma ada sisa 1 kamar… penuh karena banyak tamu buat acara pameran itu tadi… wew… gak banyak mikir, kami pun langsung tidurr!
Keesokan paginya kami memutuskan pulang ke Medan… (karena masih ada tugas di kantor uiy…). Pulang kembali melalui Pelabuhan Balohan dan naik kapal cepat (lagi) menuju Banda Aceh… hehehe… kali ini kami pilih tempat di dek kapal paling atas, tempatnya terbuka sehingga bisa menikmati pemandangan dengan sepuas-puasnya… di tengah laut kami ‘nyalip’ kapal ferry penyeberangan yang sebelumnya udah berangkat duluan…. namanya juga kapal cepat, kapal lambat mah lewat…. hehehe….

Sesampainya di Banda Aceh, memanfaatkan waktu yang tersisa, gw nyempetin dateng ke lokasi monumen kereta api Aceh yang tempatnya gak jauh dari Mesjid Raya. Kereta Api tersebut merupakan satu-satunya sisa dari kejayaan KA yang ada di Aceh pada masa lalu. Berdiri disamping sebuah pusat perbelanjaan, satu buah lokomotif bernomor BB 84 yang digandengkan dengan 1 buah gerbong. Lokomotif ini memiliki ukuran gauge yang sempit yakni 750 mm. KA di Aceh memang memiliki lebar sepur yang lebih sempit dibanding tempat lain di Indonesia yang umumnya 1067 mm. Namun sekarang rel KA 750 mm di Aceh juga sudah tidak bersisa…


Karena hari semakin siang, kamipun melanjutkan perjalanan ke Bandara untuk kembali menuju Medan…


nah, barter aja. lu jd guide gw ke sabang..ha3..
@ Pram: akhirnya sampe juga kan ke Sabang? ayo rafting! hehhehe…