Telusur Rel Mati Di Jalur KA Sumatera Utara: Bagian 2
Setelah hampir setahun sejak penelusuran yang pertama, akhirnya kelakonan juga untuk telusur jalur yang kedua yakni telusur jalur KA Mati dari Stasiun Lubuk Pakam – Pagarmarbau – Tanahabang – Galang - Petumbukan - Sialang – Bangunpurba di Sumatera Utara. Dalam penelusuran ini saya ditemani oleh Andrea Rio, seorang pencinta kereta dari Medan yang juga sama-sama memiliki rasa ingin tahu tentang sisa-sisa keberadaan jalur KA ini. Perjalanan kami kali ini tetap menggunakan sepeda motor untuk mempermudah mobilitas.
Jalur KA Lubuk Pakam – Bangunpurba merupakan salah satu jalur KA di Sumatera Utara yang dibuka oleh perusahaan kereta api Belanda, Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) untuk kepentingan perkebunan dan sarana angkutan barang. Jalur ini selesai dibangun pada tahun 1904 dan ditutup sekitar tahun 1960-an. Akibat dari penutupan jalur tersebut, maka yang ada pada saat ini hanyalah sisa-sisanya saja. Berikut cerita perjalanan kami mencari sisa-sisa kejayaan jalur Lubuk Pakam – Bangunpurba.
Penelusuran dimulai dari Stasiun Lubuk Pakam dengan patokan bekas rel yang mengarah ke Bangunpurba, serta lokasi tiang sinyal masuk dari Bangunpurba yang ada di kompleks stasiun Lubuk Pakam, letak tiang ini tak jauh dari tiang sinyal baru. Tiang sinyal yang masih lengkap dengan lengannya tersebut masih nampak kuat berdiri menantang jaman. Di bawah tiang tersebut juga masih terdapat sepasang rel yang membujur kaku hampir tertutup semua oleh aspal. Kami mulai menyusuri jalan aspal disamping rel yang kadang-kadang masih terlihat menyembul keluar di permukaan tanah, bahkan rel tersebut ada yang keluar masuk rumah penduduk. Diujung jalan, kami berbelok dan aspal tersebut mulai tergantikan oleh tanah. Di jalan tanah tersebut, rel bekas jalur ke Bangunpurba ini berada persis ditengah-tengah jalan, seakan-akan menuntun untuk segera ditemukan.






Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit kami mulai kehilangan jejak batangan rel, jadi kami harus mencari patokan lain. Yang banyak kami temukan adalah fondasi bekas jembatan KA yang melintasi parit dan sungai-sungai. Keberadaan jembatan ini meyakinkan kami bahwa kami masih menapak di jalur penelusuran yang benar. Diperjalanan ini bahkan masih terdapat jembatan yang batangan bajanya masih utuh, dan masih bisa digunakan oleh masyarakat sebagai jembatan penyeberangan untuk jalan desa.




Setelah keluar masuk jalan yang penuh dengan tanah dan melewati banyak pabrik batako rumahan, kami akhirnya melihat sebuah bangunan panjang dengan atap yang khas disebelah kiri. Di sekitar bangunan tersebut terdapat beberapa orang yang sedang memproduksi batako. Setelah kami tanyakan, mereka mengiyakan bahwa ini merupakan bekas bangunan kompleks stasiun Pagarmarbau. Di lokasi tersebut terdapat tiga buah bangunan yang masih bertuliskan PNKA. Bangunan-bangunan tersebut merupakan kompleks rumah dinas Kepala Stasiun dan pegawai-pegawai KA. Namun sayangnya, dari informasi seorang bapak yang kini menghuni bangunan rumah dinas kepala stasiun, ia menerangkan bahwa bangunan stasiun Pagarmarbau sudah tak lagi ada. Bapak tersebut menambahkan, katanya sejak tahun 60-an ketika ia baru saja datang ke tempat tersebut, bangunan stasiun sudah tinggal bagian pondasinya saja. Lokasi dimana pernah berdiri bangunan stasiun, kini sudah menjadi bagian dari jalan desa mereka. Sayang sekali rasanya… Setelah mengambil beberapa foto, perjalanan kami lanjutkan lagi melintasi jalan berlapis tanah.






Setelah Stasiun Pagarmarbau, seharusnya kami bertemu dengan Stasun Tanahabang. Namun sepanjang perjalanan kami belum juga menemukannya, hingga akhirnya perjalanan kami lanjutkan menuju ke Kota Galang.
Setelah sekian pabrik batako kami lalui dan sekian jembatan berfondasikan sisa-sisa jaman DSM yang kami lintasi, kami masuk ke jalan yang rasanya semakin kecil hingga akhirnya kami harus melewati jalan setapak yang hanya cukup dilalui oleh satu orang saja. Di kanan kiri kami terdapat sawah, kolam, kebun sawit dan kebun karet yang cukup adem menaungi perjalanan diatas sepeda motor. Setelah sekitar 15 menit menikmati jalan setapak, jalan ini pun harus berakhir di sebuah fondasi bekas jembatan yang tak bisa dilintasi sehingga kami pun harus berbelok mengambil jalan melalui tengah-tengah kebun karet untuk mencapai jalan raya Lubuk Pakam – Galang yang sudah tak jauh lagi.




Di kota Galang, setelah beberapa saat kami mengalami kebingungan dalam mencari jejak rel KA dan bangunan Stasiun, masuk keluar gang, masuk pasar dan beberapa kali balik arah karena nyasar akhirnya bangunan itupun kami temukan juga. Kompleks stasiun KA Galang ternyata merupakan sebuah kompleks stasiun yang cukup besar. Walaupun bangunan stasiunnya sendiri kecil, di emplasemennya terdapat tiga buah spoor lengkap dengan peron-peronnya. Namun peron-peron tersebut tinggal tersisa temboknya saja, ada yang dipenuhi pepohonan dan ada yang sudah terendam air kolam untuk kandang ayam dan bebek. Di sisi bangunan stasiun ini masih terdapat tulisan “GALANG”. Bekas stasiun ini ketika kami lihat sudah ditambah beberapa ruangan diluar bangunan aslinya. namun dari luar masih terlihat bentuk aslinya. Selain itu, terdapat beberapa gudang besar dengan pintu-pintu geser yang juga besar. Disana sini kompleks sudah dipenuhi pepohonan dan tanaman serta beberapa bangunan rumah penduduk.










Setelah menemukan stasiun Galang, kami pun semakin bersemangat untuk menemukan stasiun berikutnya, yakni Stasiun Petumbukan. Dari Kota Galang, kami melanjutkan perjalanan melalui kompleks perkebunan PTPN III yakni kebun Sei Putih yang mengelola tanaman karet. Di dalam kompleks kami sempat juga nyasar, namun kami nyasar sambil menemukan adanya sepasang rel yang mengarah ke sebuah lapangan. Setelah kami tanyakan pada seorang pedagang yang ada didekat lokasi tersebut, kami mendapat informasi bahwa rel tersebut mengarah ke spoor badug diujung lapangan. Kamipun bertanya-tanya, jangan-jangan kebun inilah yang merupakan salah satu sumber pengisian komoditas latex untuk dibawa keluar negeri melalui Oceaan Haven (sekarang Pelabuhan Belawan) oleh Belanda… namun pertanyaan tersebut belum bisa terjawab saat ini… lain kali ya… hehehehe…


Setelah menemukan jalan yang benar untuk keluar kompleks perkebunan, kami melanjutkan perjalanan melalui jalan raya Galang – Bangunpurba. Tak lama setelah kami keluar kompleks kebun, kami menemukan sisa fondasi jembatan lagi disebelah kiri jalan, namun kali ini dengan ukuran yang agak besar. Jembatan ini agak tertutupi oleh rimbunnya pepohonan dan semak-semak. Walaupun konstruksi jembatan ini sudah tua, namun masih terlihat kekokohannya… gile ya rancang bangun orang Belanda, dibikin biar tahan ratusan tahun!… sayang saja banyak yang tidak termanfaatkan… kami pun melanjutkan perjalanan.



Tidak jauh dari jembatan tersebut, kami langsung dihadapkan pada sebuah tanjakan dan diujung tanjakan tersebut terdapat persimpangan. Iseng-iseng saja kami berbelok. ke arah kiri Ternyata, setelah bertanya-tanya pada penduduk disana, kami diberitahu bahwa kompleks Stasiun KA Petumbukan adalah lokasi dimana kami berdiri saat itu… (ketika kami mulai berjalan, melihat kami membawa tripod dan DSLR ditangan, pastinya satu kampung aja dong yang nanya kami mau ngapain… hehehehe.. berasa artis sekaligus agak was-was juga… kalo salah ngomong, habislah… dari anak kecil, pemuda tanggung, ibu-ibu, bapak-bapak, kakek dan nenek… semua nanya! mereka pikir kami wartawan atau pegawai PT KA yang datang mau periksa ataupun survei… Namun setelah kami beri penjelasan mengenai tujuan kami, mereka bisa mengerti, bahkan dengan tersenyum ramah menunjukkan pada kami dimana persisnya lokasi bangunan stasiun tersebut berada).
Kompleks Stasiun KA Petumbukan tidak lebih besar dari Stasiun Galang, namun sama halnya dengan Galang seluruh bangunannya sudah ditempati oleh penduduk. Bangunan Stasiun Petumbukan masih terlihat asli dan hanya ada tambahan bangunan di sampingnya yang tidak mengubah tampilan stasiun ini. Selain itu, disamping bangunan stasiun ini masih terlihat jelas tulisan “PETUMBUKAN”. Selain bangunan stasiun, di lokasi ini terdapat juga emplasemen yang kini sudah berubah menjadi lapangan voli, serta bangunan rumah dinas untuk pegawai KA saat itu. Satu-satunya bekas konstruksi rel yang masih tersisa adalah sebuah bantalan kayu yang masih menyembul diatas tanah tidak jauh dari bangunan stasiun.






Dari Stasiun Petumbukan, perjalanan kami lanjutkan ke Kota Sialang. Dalam peta jalur KA jaman Belanda yang kami pegang, harusnya terdapat stasiun juga di kota ini, namun kami belum bisa menemukannya. Oleh karena itu kami melanjutkan perjalanan langsung ke Bangunpurba.
Sesampainya di Bangunpurba, kami mencari-cari dengan seksama namun ternyata tidak ditemukan juga, bahkan kami sempat terkecoh oleh adanya sebuah tower air yang cukup tinggi yang kami lihat dari kejauhan. Secara konstruksi, bentuk tower air ini merupakan bentuk bangunan lama yang kemungkinan juga buatan zaman Belanda, namun bentuknya tidak seperti tower-tower yang kami lihat di stasiun-stasiun lain, yakni tinggi bangunan dan bentuk tangki airnya. Setelah kami dekati, ternyata tower ini merupakan tower air di samping sebuah gereja dan bukannya stasiun seperti yang kami harapkan. Akhirnya kami pun bertanya pada seorang ibu disebuah warung. Ia memberitahukan bahwa Stasiun Bangunpurba tidak berada persis di pinggir jalan, namun agak menjorok kedalam dekat dengan Masjid Raya Bangunpurba. Kami ikuti petunjuk dari ibu tersebut dan akhirya kami menemukannya. Stasiun Bangunpurba!
Kompleks Stasiun Bangunpurba cukup besar, bahkan lebih besar bila dibandingkan dengan Stasiun Galang. Bangunan yang tersisa selain stasiun adalah bangunan rumah dinas dan bangunan tower air (kali ini bentuknya standar dengan tower air di stasiun yang lain). Kami rasa kompleks ini dulunya juga merupakan sebuah sub dipo lokomotif. Kompleks ini walaupun ukurannya besar namun sudah dipenuhi oleh bangunan penduduk, jalan raya dan kandang sapi!
Stasiun Bangunpurba memiliki desain yang berbeda dengan dua stasiun yang sebelumnya kami temukan. Bentuknya lebih besar dan lebih “megah” dibanding yang lain, yakni bangunan besar dengan sayap di kanan kirinya. Selain itu juga terdapat ornamen lubang angin berbentuk roda pedati besar di tembok atas bangunan. Stasiun ini pun sudah dihuni oleh beberapa keluarga yang menyekat stasiun ini menjadi beberapa bagian rumah tinggal. Ketika kami dekati dan bertanya, bapak penghuni stasiun tersebut dengan cukup sinis dan ketus berusaha menolak untuk memberikan informasi, hingga akhirnya kami harus berusaha lebih dalam menjelaskan maksud kedatangan kami, bahkan kami sampai harus mengeluarkan kartu pengenal anggota IRPS! (thanx to Kang Asep di IRPS yang udah ngirimin kartunya.. hehehehe…) sebagai bentuk usaha kami meyakinkan bahwa maksud kedatangan kami adalah untuk mendokumentasikan dengan harapan agar dapat melestarikan sisa-sisa sejarah perkeretaapian Indonesia, bukan untuk mengusik ataupun mengganggu ketenangan mereka. Setelah diberikan penjelasan sambil ia melihat serta membaca kartu tersebut, ia berubah menjadi seorang yang sangat ramah dan kooperatif, bahkan ditunjukkan akan adanya tulisan “BANGOENPOERBA” di tembok atas stasiun dan beberapa bangunan yang masih ada di kompleks tersebut… berhasil juga ternyata… hehehe…






Setelah menemukan Stasiun Bangunpurba, penelusuran ini kami anggap selesai untuk sementara. Sementara karena kami masih belum menemukan Stasiun Tanahabang dan Stasiun Sialang. Namun, kami cukup puas. Teriring harapan semoga dapat kami lengkapi segera dan semoga informasi yang kami tuliskan disini dapat memberikan tambahan pengetahuan baru bagi para pembaca.
Thanx to all railfans all over Indonesia yang udah support untuk penelusuran jalur mati ini.
Tunggu kami di penelusuran rel mati selanjutnya :
Jalur KA Mati dari Stasiun Binjai – Kebon Lada – Payaroba – Tanjungjati – Brahrang – Selesai -Padang Cermin – Kuala di Sumatera Utara. (dan semoga saja tidak perlu menunggu setahun lagi.. hehehehe…)
Postingan sebelumnya tentang penelusuran rel mati di Sumatera Utara:


mas perlu stamina yang kuat tuh y… trus jalaninnya pke perizinan gag!? ad yg bertanggung jawab, kan berisiko loh!!!
mas penulusuran yg selanjutnya ngelewatin kmpung oma ak di.. Brahrang – Selesai,klo kesana hubgi ak y mas!! dtunggu. bravo…
TETAP SEMANGAT!!! LANJUTKAN!
Bravo!!! Keren banget
@ Yoga: yang jelas sih perlu niat! hahahaha… mblusukan yang kami lakukan ini aja udah tertunda hampir setahun.. wah, boleh tuh mampir-mampir di brahrang… woke dah Yoga, ntar kita kasih kabar..
@ Pakdhe Lutfi: Makasih pakdhe, hehehe…. kapan main-main ke Medan nih?
@ Mas Soni: Akhirnya kelakonan juga mas… hihihi… udah kelamaan nunggu ya? hehe sori yaa… semoga postingan ini cukup representatif…
Andaikan Smua Jalurnya Msi aktf ! Pst stasiun MEDAN Ramai bget.ad kreta dr BESITANG,KUALA, BELAWAN,DELITUA,PANCUR BATU,N BANGUN PURBA.Andai wkt dpt d putar kembli ??? Moga2x mggu ne k Kuala y biar gx pnasarn n nunggu lma.
wah, sy acungi jempol blusukan huntingnya di divre 1 sumatera utara. gimana kalo kita kerjasama untuk dimuat di majalah kereta api mas? kalau masnya tinggal di medan, bisa kita jadikan korespnden di sana. Ok, ditunggu konfirmasinya. Tks
@ Ismail: andai saja…. hehehe… mari kita ber andai-andai…. thx supportnya ismail, semoga tidak terlalu lama nih realisasinya… hehehe…
@ Amad S: Terimakasih buat jempolnya Bang Amad… wah, menarik juga penawarannya… dimana kita bisa saling berhubungan Bang? Mohon japri saya di gregory_hw@yahoo.com ya… terimakasih.
sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada mas admin (gak tau namanya sih) karena dari postingan nya saya merasa cukup puas.
saya sudah membaca semua postingan mas.
terus terang saja saya sangat menyukai bahkan mencintai kereta api.
dari dulu saya sangat tertarik dengan semua hal yg berhubungan dengan kereta api.
khususnya memang yg ada di Sumatra Utara.
dari dulu juga saya sudah tertarik dengan jalur2 kereta api mati sekaligus stasiunnya.
seperti yg ada di Deli Tua.
percis berada di samping rumah sahabat saya letak stasiun lama itu.
dan saya jugak sering bertanya kepada dia tentang stasiun itu.
saya cukup puas mas melihat dan membaca artikelnya.
apalagi foto2 yg mas upload.
semuanya merupakan informasi yg sangat penting bagi saya.
dan juga membuktikan pada saya bahwa memang masik banyak pecinta kereta api di Medan ini.
saya selalu di tertawakan teman2 dan pacar saya ketika melintasi perlintasan kereta api dan berharap kereta apinya lewat. hahahaha
apalagi kampus saya terletak di Jl. Thamrin.
dekat dengan stasiun kota.
sering saya sibuk melihat dari kampus ketika kereta api melewati jalan Thamrin tersebut.
apalagi klo sore.
fffiiiuuuhhhh jadi macet kan mas.
sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih kepada mas yg telah ikhlas (mungkin) membagi infonya di blog ini.
salam kenal ya mas.
hehehhe..
Terimakasih atas atensi dan sharing ceritanya Mas Tondy… hehehe… suka kereta api memang seringnya dianggap aneh… Memang saat ini di Sumatera Utara (khususnya Medan) belum terlalu banyak orang yang terlihat menyukai kereta api (atau belum kelihatan aja mungkin ya? hehehe…). Sementara ini, kami-kami di Sumut (yang sudah keliatan kesukaannya terhadap KA) cukup aktif berkumpul dan membahas tentang cerita dan perkembangan KA Sumut khususnya dan Indonesia pada umumnya. Yaaa paling tidak seminggu sekali ada kumpul-kumpul ketemuan… Biasanya kami berkumpul di Stasiun Pulubrayan setiap Sabtu sore mas. Sekaligus melalui ini, kami mengundang Mas Tondy untuk ikut bergabung dan menyatukan kecintaan kita terhadap kereta api. Sekali lagi terimakasih dan salam hangat dari kami.
waaaaaahhh terima kasih atas undangan nya mas.
Insya Allah akan saya penuhi.
kalau boleh tau, sudah ada akun grup di fb mas?
supaya saya bisa lebih banyak lagi mendapatkan info nya.
terima kasih lo sebelumnya.
wah, benar nih mas? Mau nelusuri jalur Ka. Binjai-Kuala…. Wah kalau jadi mampir di Binjai, saya boleh dong diajak ikut? so saya sangat suka petualangan abang ni…. Kebetulan saya tinggal di kawasan Kebun Lada… dan setelah melihat peta stasiun lama yg abang posting…. mondar-mandir saya cari gak dapat-dapat….. Bingung…. stasiun Payaroba juga susah banget…padahal masih kawasan kota Binjai… Selain itu ada Titi KA..yg melintasi Sungai Bingai sudah lama roboh dan tinggal pondasi…. kebanyakan besinya habis dicuri orang dan ambruk akibat abrasi sungai Bingai… waktu kejadian ambruk itu saya menyaksikannya…sayang sekali titi sekokoh itu ambruk…
Mas gery, sapa yang da di photo tu ….??????????
Trus, sapa aja yang ikut telusuri rel mati…….??????
Mas gery, yang telusur rel mati ke KUALA jangan lama-lama ya
Trus yang ke pangkalan susu, kapan……..????????
Heeeeeeeheeeee….
salut untuk para pencinta kreta api di indonesia. semoga pembangunan kreta sumatra railways dari banda aceh – lampung bisa terlaksana. good lucky for you all
very nice infoo… ^^
salut !! lanjut ger!!
@Aulia: wah, suka kereta api juga ya? ikut gabung aja dengan kami
. terimakasih sudah mampir ya.
@Azwar: itu fotonya Andrea Rio Rio yang ikut bareng saya telusur jalur ini. untuk jalur mati Kuala & PAangkalan Susu akan segera saya posting
. thx udah mampir ya Azwar.
@Aloy, ai & Nonique: terimakasih sudah mampir ya